Ketika disuruh kencing sebelum main keluar pagi ini, Hanifa lagi-lagi menolak. Dia bikin alasan menarik, "Kemarin kan sudah keluar kencingnya, jadi sekarang sudah nggak ada lagi." Dia yakin saya bisa percaya itu.

Mulai hari ini saya memperkenalkan keasyikan baru pada hanifa, membuat mosaik dengan menggunting dan menempel kertas berwarna. Saya belikan lem waktu belanja di Discount OK pagi tadi. Sejak beberapa minggu lalu dia sudah berlatih menggunakan gunting dan semalam sudah kelihatan agak lancar. Dia senang sekali dengan permainan baru ini. Sesiang ini sudah tiga sesi dia melakukannya. Saya ikut untuk memberi contoh. Dia masih memaksa saya ikut bermain terus, padahal tujuan saya mengenalkan ini supaya saya punya waktu luang lebih banyak, agar dia punya kegiatan yang menuntut konsentrasi panjang dan keasyikan sendiri.

Akhir-akhir ini hanifa makin jarang mau tidur siang. Sudah dibacakan buku, dinyanyikan lagu, dia tetap segar bahkan minta main keluar lagi. Hari ini, dia tertidur sendiri pukul setengah tujuh. Sejak pukul tiga saya mencoba mengajaknya istirahat. Sekarang rasanya saya ingin melakukan banyak hal yang tertunda.

Hanifa mulai mengenal huruf. Ketika saya membaca, dia menunjukkan huruf-huruf yang dikenalnya pada sampul atau halaman yang sedang terbuka. Dunia di sekitarnya akan semakin terbuka, sedikit-sedikit dia tidak akan lagi melihat sebuah aksara tanpa membacanya. Sebuah lompatan besar yang tak mungkin membawa dia kembali ke keadaan sebelumnya. Sebentar lagi dia akan mampu merangkai bunyi huruf menjadi kata, kata menjadi kalimat. Betapa sebuah keajaiban aksara itu. Di tangannya kini ada sebuah "senjata" yang luar biasa.

Pagi ini hanifa duduk di toilet keong sambil wajahnya berkerut seperti sedang berhadapan dengan teka-teksi silang, kemudian tertawa lebar melihat saya menirukan ekspresinya. Masih sulit untuk mengajak Hanifa kencing di toilet, dia selalu bilang mau kencing setelah popoknya basah. Tapi untuk buang air besar dia sudah lebih siap, mungkin karena dorongannya lebih terasa dan datang jauh sebelum bom pertama jatuh.

Menonton pengeboman irak, melihat langit benderang diiringi ledakan bertubi-tubi, Hanifa mencengkeram tangan saya kuat-kuat sambil menyembunyikan wajahnya. Dia mulai menumbuhkan rasa takut yang agak berlebihan pada bunyi-bunyian keras atau yang tak kelihatan sumbernya. Mendengar bunyi air mendidih, minyak panas menggerung saat saya menggoreng atau penyedot debu dari lantai atas, dia buru-buru lari menangkap saya dari belakang dan menyembunyikan wajahnya di balik punggung baju saya.

Hanifa tidak lagi menyebut kismis "mimis". Dia masih doyan kismis, sekali suap lima biji, bisa tanpa henti selama setengah jam. Dia lihat gambar di bungkusan kismis itu, dia berkata, "kismis ini dibuat dari anggur, ada gambar anggur di bungkusnya." Pintar membuat kesimpulan.

Saya suka sekali mendengar suara Hanifa menyanyi. Terasa begitu indah dan lembut di telinga, serasa dibawa ke dalam alunan gembira suasana hatinya. Ketika berjalan-jalan di Yoshinobaigo Koen Jumat lalu, Hanifa menyanyi lagu Omocha, pada penggalan refrain yang paling mudah dilagukannya. Rombongan ibu dan anak-anak yang kami lewati menyambung lagu itu dengan lengkap. Lagu gembira menjalarkan suasana gembira.

Kini sudah makin banyak lagu yang dia hapal lirik lengkap atau penggalannya. Saya terkejut ketika suatu pagi dia menyanyikan secara lengkap untuk pertama kalinya lagu Maigo no konekochan. Rupanya dia merekam diam-diam lagu-lagu itu ketika mendengarkannya. Pantas saja, kalau saya menyanyikan sebuah lagu, dia tampak mendengarkannya dengan serius sambil melihat gerak mulut saya dan ikut menggerakkan mulutnya tanpa suara. Seperti itu jugalah cara dia mula-mula belajar berbicara, dengan mendengar sambil mengikuti gerakan mulut orang yang bicara. Pelan-pelan dia bisa mengucapkannya sendiri. Semakin sering anak diajak bicara dengan kata-kata yang dia mengerti, semakin cepat dia bisa mengungkapkan isi pikirannya. Saya sering merekam suara Hanifa di Zaurus.
Kalau Hanifa sedang tidur, saya suka memandangi wajah Hanifa. Wajah anak kecil ketika sedang tidur tampak begitu tenang, damai, tidak seperti orang dewasa yang dalam tidurnya tampak capek dan kusut, penuh persoalan. Kadang Hanifa tersenyum sedang tidur, mungkin mimpi indah. Melihat wajah hanifa sedang tidur saya membayangkan senangnya kalau bisa membuat Hanifa gembira sepanjang hari. Anak yang gembira akan tumbuh lebih sehat, lebih cepat mengerti dunia di sekitarnya, karena dia merasa aman dan diterima.
"Ifa mau terbang," katanya malam ini menyaksikan Anpanman dkk bisa terbang di layar komputernya.
"Kok si Erik nyanyinya keras-keras," tanya Hanifa melihat penampilan pembawa acara Eigo-de-Asobo di televisi. Hanifa di rumah selalu diingatkan supaya jangan nyanyi keras-keras, karena kami khawatir suara ributnya mengganggu tetangga. Hanifa menggugat orang yang melakukan apa yang bagi dia terlarang.
Tinggal sepotong apel di piring. Hanifa makan apel dengan lahap setelah bangun tidur siang. Ibu sudah berhenti dari tadi dan menyisakannya untuk Hanifa. Hanifa menolak memakan potongan terakhir itu. "Untuk ibu saja," kata Hanifa. Tolak-menolak, tawar menawar, akhirnya ibu memakan setengah dan untuk Hanifa setengahnya. Hanifa melahap potongan terakhir itu dan minta dikupaskan lagi.

Ibu membersihkan ikan di dapur. Hanifa melihat. Tiba-tiba hanifa bertanya, ikan itu makannya apa. Beberapa hari lalu hanifa juga bertanya gajah makannya apa, kirin, saru. Hewan-hewan yang diketahuinya. Hanifa mulai bertanya apa dan bagaimana.