Hanifa selalu merasa dirinya sudah besar. Dia ingin sekali dianggap sama tinggi atau lebih tinggi daripada saya, ukuran telapak tangannya sama dengan saya, kakinya bisa memakai sepatu saya. Habis makan dalam porsi yang agak banyak, dia merasa tingginya langsung bertambah dan berat badannya naik. Dia akan segera pergi ke timbangan untuk melihat sudah berapa pertambahan berat badannya, dan angka di timbangan itu tidak bergerak dari 13 kg sejak beberapa bulan lalu.
Kalau sedang bermain di tempat umum, dia suka mencari anak yang lebih besar darinya. Kalau kebetulan ada anak besar di tempat bermain itu, dia akan membuntuti dan meniru apa saja yang dikerjakan dan diucapkan anak itu, sampai akhirnya terjadi dua kemungkinan: anak itu senang dan mengajak dia bermain, atau anak itu kesal dan menyuruh dia berhenti meniru atau membuntutinya. Tapi seringnya, anak besar itu akhirnya senang dan Hanifa bisa bermain bersamanya.
Favoritnya adalah anak usia delapan hingga sepuluh tahunan, anak perempuan yang sudah bersekolah, berambut panjang, berbaju merah muda dan berani pergi-pergi sendirian. Menjelma anak seusia itu seperti menjadi impiannya. Maka dia tidak mau rambutnya dipotong, setiap habis mandi minta diikatkan rambutnya seperti anak gede yang pernah dia lihat. Tapi kepadanya sering dikatakan bahwa dia lebih cantik pakai kerudung, seperti Nisa dalam Seri Cerita Balita.
Klaimnya sebagai "anak gede" sering jadi senjata kami untuk mendorong (atau memaksa?) dia melakukan sesuatu. "Katanya sudah gede, kok nggak mau makan sendiri," atau "Kan mau cepat anak gede, makanannya dihabisin ya," atau "Kalau anak gede nggak minta digendong lagi."
Barangkali salah, menjadikan klaim itu sebagai senjata. Karena kalau lagi begitu, diam-diam dalam hati dia barangkali menyesali keinginannya untuk jadi anak gede, barangkali dia ingin tetap jadi anak kecil yang sepertinya serba tidak mesti bertanggung jawab. Mestinya dia dibuat nyaman saja dengan usianya berapa pun, dan perbuatan yang baik tidak dikaitkan dengan usia yang belum ada di tangannya. Kadang-kadang orangtua tanpa disadari melakukan sesuatu yang membunuh cita-cita anak.
Seumur hidupnya sampai saat ini Hanifa belum pernah merasakan tinggal dalam keluarga besar yang bukan hanya terdiri dari ayah, ibu dan adiknya. Sejak lahir hidup sehari-harinya hanya dipenuhi oleh kehadiran anggota keluarga inti. Liburan dua minggu ke Indonesia ketika dia berusia dua tahun tidak sempat membekaskan sebuah pengalaman hidup yang lengkap dalam suasana keluarga besar.
Maka kedatangan Uci dan Om Andy dari Padang minggu ini menjadi sebuah pengalaman baru buat dia. Pengalaman baru yang cukup membuat stress. Saya bisa mengerti itu. Ketika kecil saya juga sering heran kenapa orangtua saya bisa bicara dengan akrab dan begitu ramah dengan orang yang tidak pernah saya kenal, orang-orang yang kemudian tinggal lama bersama di rumah, bercanda, bicara panjang lebar tentang soal-soal yang tidak terbayangkan.
Orang-orang itu rupanya entah dengan pertalian yang bagaimana adalah saudara dari ibu atau ayah, entah kakak dan adik kandung, kakak atau adik nenek, saudara senenek, anak paman dari pihak kakek ibu, dan segala macam belitan hubungan yang sulit saya mengerti waktu itu. Asing rasanya, tapi harus diterima. Barangkali itulah yang dirasakan Hanifa saat ini ketika melihat saya dan ayahnya dengan begitu gampang bisa bicara akrab dan panjang, ramah, bercanda dan tertawa bersama Umak dan Andy.
Maka tidak heran jika dia ingin tetap bisa memegang "dunia lama yang dikenalnya" di tengah kebaruan yang asing ini. Dia menuntut perhatian dan waktu yang lebih besar untuk dia. Kehadiran Uci dan Om Andy serta merta membuat dia terputus dari ritme kehidupannya yang normal. Pagi tidak diawali dengan cara yang biasa, sarapan kini bukan hanya bertiga saja, cara serta apa yang dimakan pada saat sarapan juga berbeda. Siang juga tidak dilalui seperti biasa, kegiatan yang sering dia lakukan sepanjang siang ikut terpengaruh oleh kehadiran tamu-tamu. Dan malam berakhir dengan cara yang berbeda.
Stressnya kelihatan jelas pada dua hari pertama. Dia hanya mau makan masakan yang saya masak, bukan yang dibikinkan Uci. Saya tidak boleh jauh-jauh dari dia, kalau saya sedang bicara dengan Umak, dia ajak saya pergi menjauh ke ruang-ruang yang lain sambil memegang kuat-kuat tangan saya. Dia butuh untuk ditemani lebih banyak. Apalagi dia kelihatan agak takut dengan Om Andy yang agak agresif mendekati dia, ingin mengajak dia bermain. Tiap kali Om Andy datang mendekat, Hanifa jadi cemas, melirik-lirik dari jauh sambil menyembunyikan muka di balik punggung saya.
Tapi pada hari ketiga dia kelihatan mulai rileks. Dia mau bermain bersama Uci. Menggambar bersama, main lempar bola, mau diikatkan rambutnya oleh Uci dan mendengarkan cerita nabi-nabi menjelang tidur. Kedatangan Uci dan Om Andy ini bisa menjadi pendahuluan buat dia sebelum memasuki tahap perubahan ritme hidup dengan stress yang tentu lebih besar lagi ketika kami harus kembali ke Indonesia Oktober nanti.
Maka kedatangan Uci dan Om Andy dari Padang minggu ini menjadi sebuah pengalaman baru buat dia. Pengalaman baru yang cukup membuat stress. Saya bisa mengerti itu. Ketika kecil saya juga sering heran kenapa orangtua saya bisa bicara dengan akrab dan begitu ramah dengan orang yang tidak pernah saya kenal, orang-orang yang kemudian tinggal lama bersama di rumah, bercanda, bicara panjang lebar tentang soal-soal yang tidak terbayangkan.
Orang-orang itu rupanya entah dengan pertalian yang bagaimana adalah saudara dari ibu atau ayah, entah kakak dan adik kandung, kakak atau adik nenek, saudara senenek, anak paman dari pihak kakek ibu, dan segala macam belitan hubungan yang sulit saya mengerti waktu itu. Asing rasanya, tapi harus diterima. Barangkali itulah yang dirasakan Hanifa saat ini ketika melihat saya dan ayahnya dengan begitu gampang bisa bicara akrab dan panjang, ramah, bercanda dan tertawa bersama Umak dan Andy.
Maka tidak heran jika dia ingin tetap bisa memegang "dunia lama yang dikenalnya" di tengah kebaruan yang asing ini. Dia menuntut perhatian dan waktu yang lebih besar untuk dia. Kehadiran Uci dan Om Andy serta merta membuat dia terputus dari ritme kehidupannya yang normal. Pagi tidak diawali dengan cara yang biasa, sarapan kini bukan hanya bertiga saja, cara serta apa yang dimakan pada saat sarapan juga berbeda. Siang juga tidak dilalui seperti biasa, kegiatan yang sering dia lakukan sepanjang siang ikut terpengaruh oleh kehadiran tamu-tamu. Dan malam berakhir dengan cara yang berbeda.
Stressnya kelihatan jelas pada dua hari pertama. Dia hanya mau makan masakan yang saya masak, bukan yang dibikinkan Uci. Saya tidak boleh jauh-jauh dari dia, kalau saya sedang bicara dengan Umak, dia ajak saya pergi menjauh ke ruang-ruang yang lain sambil memegang kuat-kuat tangan saya. Dia butuh untuk ditemani lebih banyak. Apalagi dia kelihatan agak takut dengan Om Andy yang agak agresif mendekati dia, ingin mengajak dia bermain. Tiap kali Om Andy datang mendekat, Hanifa jadi cemas, melirik-lirik dari jauh sambil menyembunyikan muka di balik punggung saya.
Tapi pada hari ketiga dia kelihatan mulai rileks. Dia mau bermain bersama Uci. Menggambar bersama, main lempar bola, mau diikatkan rambutnya oleh Uci dan mendengarkan cerita nabi-nabi menjelang tidur. Kedatangan Uci dan Om Andy ini bisa menjadi pendahuluan buat dia sebelum memasuki tahap perubahan ritme hidup dengan stress yang tentu lebih besar lagi ketika kami harus kembali ke Indonesia Oktober nanti.
Kalau disediakan lingkungan yang mendukung, maka setiap anak usia tiga tahunan adalah seorang pembelajar natural. Saya memperhatikan kecenderungan itu pada Hanifa. Ada tiga buku prasekolah yang tersedia buat dia di rumah. Pre-K Jumpstart, Kidergarten Jumpstart dan Pre-K Schoolzone. Ketiga buku ini berisikan latihan-latihan untuk membangun keterampilan belajar anak, meliputi antara lain pengenalan huruf, angka, logika sederhana (seperti menyortir berdasarkan ukuran, mengurutkan kejadian), pengetahuan alam dasar (mengenal perubahan musim, makhluk hidup dan benda mati, binatang dan tumbuhan), pengetahuan sosial (keamanan berlalu lintas, jual beli), mengenal emosi (membaca ekspresi wajah).
Hanifa suka sekali membuka ulang buku-buku ini. Buat dia pelajaran yang ada dalam buku itu tak kalah menarik dari bermain, atau bahkan memang merupakan permainan sendiri. Entah sudah berapa kali dia menamatkan ketiga buku itu dan masih belum bosan juga. Dia menyukai buku itu tanpa dipaksa. Saya pun tidak menetapkan jadwal khusus untuk program belajarnya di rumah. Keinginan untuk belajar, keinginan untuk tahu, seperti tumbuh secara alamiah saja pada dirinya. Barangkali kebutuhan itu muncul dengan sendirinya pada usia ini. Saya jadi ingin merekomendasikan buku-buku itu untuk setiap orang tua yang ingin mempersiapkan kemampuan belajar anak balitanya di rumah.
Hanifa suka sekali membuka ulang buku-buku ini. Buat dia pelajaran yang ada dalam buku itu tak kalah menarik dari bermain, atau bahkan memang merupakan permainan sendiri. Entah sudah berapa kali dia menamatkan ketiga buku itu dan masih belum bosan juga. Dia menyukai buku itu tanpa dipaksa. Saya pun tidak menetapkan jadwal khusus untuk program belajarnya di rumah. Keinginan untuk belajar, keinginan untuk tahu, seperti tumbuh secara alamiah saja pada dirinya. Barangkali kebutuhan itu muncul dengan sendirinya pada usia ini. Saya jadi ingin merekomendasikan buku-buku itu untuk setiap orang tua yang ingin mempersiapkan kemampuan belajar anak balitanya di rumah.
Pagi adalah waktu yang sibuk, padat kegiatan. Tentu demikianlah yang terjadi di semua rumah, apalagi kalau ada anak-anak yang mesti berangkat sekolah dan orangtua yang berangkat kerja. Sarapan, membereskan tempat tidur, mandi, kadang juga mencuci dan mempersiapkan makanan hari itu, semua dilakukan dalam jangka satu dua jam sebelum berangkat.
Hanifa punya kebiasaan sarapan dua kali setiap pagi. Pertama setelah bangun tidur: sarapan ringan roti-bermentega-tidak-dipanggang-pinggirnya-dilepas, atau cereal atau bubur gandum, plus teh. Dia jarang bisa menghabiskan porsi yang disediakan. Satu lembar roti pun terlalu banyak. Setelah mandi dia biasanya sarapan lagi: nasi. Biasanya kegiatan Hanifa di waktu pagi ini dilakukan sambil menonton acara anak-anak di televisi NHK yang mengambil slot waktu sekitar pukul 7:30 hingga 9:00.
Kalau sedang menonton itu maka mengajak Hanifa mandi atau sarapan akan jadi sulit dan membosankan karena matanya terpaku ke televisi, telinganya seperti tersumbat. Perlu usaha ekstra untuk membuat dia mau beranjak dari depan televisi, perlu sedikit rayuan yang inovatif. "Ayo cepat mandi, jam sembilan kita mau ke perpustakaan," atau pergi ke koen, atau belanja, atau misalnya. Tidak jarang dia baru mau bergerak setelah acara selesai.
Tapi untungnya dia masih belum punya ingatan yang kuat tentang jadwal acara televisinya. Dua bulan belakangan ini acara nonton televisi pagi itu dihilangkan, agar seluruh kegiatan paginya bisa berjalan lebih lancar dan waktu menyelesaikannya jadi lebih singkat. Dan, pagi sekarang jadi terasa lebih panjang!
Hanifa punya kebiasaan sarapan dua kali setiap pagi. Pertama setelah bangun tidur: sarapan ringan roti-bermentega-tidak-dipanggang-pinggirnya-dilepas, atau cereal atau bubur gandum, plus teh. Dia jarang bisa menghabiskan porsi yang disediakan. Satu lembar roti pun terlalu banyak. Setelah mandi dia biasanya sarapan lagi: nasi. Biasanya kegiatan Hanifa di waktu pagi ini dilakukan sambil menonton acara anak-anak di televisi NHK yang mengambil slot waktu sekitar pukul 7:30 hingga 9:00.
Kalau sedang menonton itu maka mengajak Hanifa mandi atau sarapan akan jadi sulit dan membosankan karena matanya terpaku ke televisi, telinganya seperti tersumbat. Perlu usaha ekstra untuk membuat dia mau beranjak dari depan televisi, perlu sedikit rayuan yang inovatif. "Ayo cepat mandi, jam sembilan kita mau ke perpustakaan," atau pergi ke koen, atau belanja, atau misalnya. Tidak jarang dia baru mau bergerak setelah acara selesai.
Tapi untungnya dia masih belum punya ingatan yang kuat tentang jadwal acara televisinya. Dua bulan belakangan ini acara nonton televisi pagi itu dihilangkan, agar seluruh kegiatan paginya bisa berjalan lebih lancar dan waktu menyelesaikannya jadi lebih singkat. Dan, pagi sekarang jadi terasa lebih panjang!
Hanifa sedang senang berdandan. Bangun tidur pagi dia sudah minta rambutnya disisir, diikat, dijepit dengan ikat rambut dan jepitan warna pink atau merah. Pakaian kesukaannya adalah yang berbunga-bunga dan yang berwarna pink. Entah dari mana dia mengambil contoh dalam soal ini. Pasti bukan dari saya karena saya bukan tipe yang terlalu mau repot dengan penampilan. Sedikit bercermin dan merapikan diri sebelum keluar rumah, menyisir rambut sehabis mandi dan mengenakan lotion dan pelembab kulit adalah yang paling jauh yang saya lakukan dalam soal ini. Apakah anak perempuan dengan sendirinya punya kecenderungan untuk suka berdandan? Kadang-kadang dia mengambil lipstik pelembab tanpa warna dan mengoleskannya sendiri di bibirnya. Berulang kali dalam sehari dia merasa perlu untuk mengaca dan merapikan lagi rambutnya, ujung rambutnya dia selipkan di belakang telinga, kemudian berkata, "Lihat, cantik kan?" Huwaa!! Tak pernah dalam sejarah masa kecil saya, saya melakukan dan mengatakan itu (seingat saya).
Belajar Iqra'
Setiap pagi Hanifa punya kegiatan rutin belajar Iqra' bersama ayahnya. Akhir Maret lalu dia menyelesaikan Iqra' 2 dan hari ini dia tiba di halaman terakhir Iqra' 3. Sejak Rasyad lahir, saya nyaris tidak terlibat sama sekali dalam membimbing Hanifa belajar ngaji. Ayahnya yang melakukan itu dengan kontinuitas yang lebih terjaga.
Awalnya hadiah-hadiah kecil dari ayahnya itu sebagai pendorong dia untuk mau membaca satu halaman Iqra'. Hadiah yang jadi pemancing buat dia itu diberikan sebelum atau sesudah dia belajar mengaji. Hampir dua bulan berjalan begitu, lama kelamaan greget hadiah itu makin berkurang. Dia pernah tetap menolak belajar meskipun dijanjikan atau sudah diberi hadiah. Suatu hari akhirnya dia bilang pada ayahnya, "Hanifa nggak usah dikasih hadiah lagi." Sejak itu dia mau belajar ngaji meski tidak ada hadiah.
Ketika masuk ke Iqra' 3, Mas Budi menggunakan cara bercerita untuk mengenalkan pembacaan huruf hijaiyah berbaris bawah dan sukun. Nama tokoh-tokoh dalam cerita itu diambil dari bunyi huruf, jadi ada si Bi, Ri, dan Ki, yang janjian ketemu di sungai bersama si Bu, Ru, dan Ku, misalnya. Cerita ini membuat Hanifa mudah mengenali cara baca yang baru dikenalkan di Iqra' 3. Suatu siang ketika kami berjalan di pinggir Nogawa, Hanifa nyeletuk, "Di sini tempat mainnya si Bi dan si Ri," katanya. Dalam pembacaannya Hanifa ssering keliru membedakan huruf ba dengan ja, dan huruf na dengan dza.
Belajar mengaji biasanya merupakan salah satu pengalaman masa kecil yang melekat kuat dalam ingatan. Saya masih ingat bagaimana saya dulu dibimbing belajar ngaji oleh ibu saya, mengulang-ulang pelajaran sampai bosan di meja makan dan dimarahi ayah karena malas-malasan. Saya masih ingat pawai khatam Al-Quran yang saya ikuti sepanjang jalan utama di depan masjid. Hanifa nanti akan punya memori tentang belajar mengaji di pangkuan ayahnya setiap pagi, sehabis mandi sebelum ayahnya berangkat ke lab.
Awalnya hadiah-hadiah kecil dari ayahnya itu sebagai pendorong dia untuk mau membaca satu halaman Iqra'. Hadiah yang jadi pemancing buat dia itu diberikan sebelum atau sesudah dia belajar mengaji. Hampir dua bulan berjalan begitu, lama kelamaan greget hadiah itu makin berkurang. Dia pernah tetap menolak belajar meskipun dijanjikan atau sudah diberi hadiah. Suatu hari akhirnya dia bilang pada ayahnya, "Hanifa nggak usah dikasih hadiah lagi." Sejak itu dia mau belajar ngaji meski tidak ada hadiah.
Ketika masuk ke Iqra' 3, Mas Budi menggunakan cara bercerita untuk mengenalkan pembacaan huruf hijaiyah berbaris bawah dan sukun. Nama tokoh-tokoh dalam cerita itu diambil dari bunyi huruf, jadi ada si Bi, Ri, dan Ki, yang janjian ketemu di sungai bersama si Bu, Ru, dan Ku, misalnya. Cerita ini membuat Hanifa mudah mengenali cara baca yang baru dikenalkan di Iqra' 3. Suatu siang ketika kami berjalan di pinggir Nogawa, Hanifa nyeletuk, "Di sini tempat mainnya si Bi dan si Ri," katanya. Dalam pembacaannya Hanifa ssering keliru membedakan huruf ba dengan ja, dan huruf na dengan dza.
Belajar mengaji biasanya merupakan salah satu pengalaman masa kecil yang melekat kuat dalam ingatan. Saya masih ingat bagaimana saya dulu dibimbing belajar ngaji oleh ibu saya, mengulang-ulang pelajaran sampai bosan di meja makan dan dimarahi ayah karena malas-malasan. Saya masih ingat pawai khatam Al-Quran yang saya ikuti sepanjang jalan utama di depan masjid. Hanifa nanti akan punya memori tentang belajar mengaji di pangkuan ayahnya setiap pagi, sehabis mandi sebelum ayahnya berangkat ke lab.
Fans baru
Hanifa sekarang punya fans berat. Seorang penggemar yang suka memperhatikannya dengan binar mata takjub, terheran-heran kagum, dengan senyum yang selalu siap melebar jadi tawa. Dan Hanifa menjadi sangat senang. Setiap kali Rasyad tertawa melihat tingkahnya, Hanifa jadi makin bersemangat menunjukkan bermacam atraksi, melompat, berjungkir balik, menari untuk memancing lagi gelak tawa adiknya. Kalau Rasyad sudah saya letakkan di kursi tingginya, maka lantai dapur akan menjadi panggung Hanifa bernyanyi dan menari, sementara Rasyad duduk menontonnya kegirangan, seperti sedang menyaksikan pertunjukan paling hebat di dunia--barangkali memang demikian bagi dunia seorang bayi tiga bulan.
Perkembangan ini sangat membantu melunakkan kecemburuan Hanifa pada adiknya. Dia mulai menganggap Rasyad sebagai teman bermain, meskipun untuk berbagi mainan dia masih penuh perhitungan. Oke, mainan berwarna merah untuk Hanifa, yang biru untuk Rasyad. Tapi begitu Rasyad mulai pegang mainan yang biru, Hanifa jadi pengin mainan biru juga. O-oh. Yah, adik kecil yang masih belum bisa protes itu terpaksa dibuat mengalah dulu untuk kakaknya.
Perkembangan ini sangat membantu melunakkan kecemburuan Hanifa pada adiknya. Dia mulai menganggap Rasyad sebagai teman bermain, meskipun untuk berbagi mainan dia masih penuh perhitungan. Oke, mainan berwarna merah untuk Hanifa, yang biru untuk Rasyad. Tapi begitu Rasyad mulai pegang mainan yang biru, Hanifa jadi pengin mainan biru juga. O-oh. Yah, adik kecil yang masih belum bisa protes itu terpaksa dibuat mengalah dulu untuk kakaknya.
Terbang ke bulan
Bulan nyaris purnama di langit malam ini. Hanifa mengintipnya dari balik jendela. Awan hitam tipis menutup sebagian wajah bulan. Hanifa bergegas lari ke arah saya, yang sedang menimang Rasyad sambil bersenandung kecil untuk menidurkannya. Dia berbisik, "Hanifa ingin ke bulan itu."
Permintaan semacam ini sering direngekkan Hanifa kalau sudah mulai mengantuk. Variannya yang lain adalah "ingin belajar terbang" atau "ingin tidur di awan." Saya tidak pasti apakah dia tahu bahwa itu mustahil dipenuhi, dia memintanya dengan nada yang sama seperti saat dia meminta dibuatkan teh atau dibacakan buku. Tapi mungkin dia tahu itu karena dia memintanya diiringi wajah sedih. Biasanya begitu melihat saya terdiam sejenak setelah mendengar permintaan itu, dia akan menangis dan mengulangi rengekannya di tengah suara tangisnya.
Saya sudah belajar dari pengalaman terdahulu bahwa permintaan semacam itu tidak bisa ditolak tegas dengan mengedepankan realitas atau logika. Dia akan jadi makin sedih. Air mata yang perlu dibendung akan semakin banyak dan dadanya jadi sesak, sulit bernapas dan dia akan terus terisak-isak. Harus dicarikan jawaban yang tak kalah imajinatif atau pengalih perhatian yang tidak mengabaikan permintaan itu sebagai omong kosong anak-anak saja.
Lantas berkhayallah kami bersama terbang menuju bulan dan bintang, melintasi awan dengan kedua tangan mengacung ke depan seperti anpanman atau superman atau batman lagi terbang, atau kedua tangan berayun di kiri dan kanan seperti sayap burung. Kami bertemu dengan pesawat terbang yang sedang menembus hamparan awan putih. Sampai akhirnya kami tiba di bulan dan tidak menemukan apa-apa di sana kecuali kelinci-kelinci yang melompat ke sana ke mari. Tidak ada pohon, tidak ada air atau orang-orang lain sehingga kami harus cepat-cepat kembali ke bumi.
Lantas bernyanyilah saya lagu 'Ambilkan bulan, bu.' dan Hanifa berkhayal bulan itu sudah sampai di pelukannya, yang kini dia taruh di samping bantalnya, dan bulan itu sedang tersenyum. Tapi dia masih belum mau tidur juga dan adiknya mulai menangis karena juga belum bisa tidur. Akhirnya pukul sembilan, ayah mereka pulang, Hanifa melupakan bulannya, kantuknya buyar, dan dia bergegas mempersiapkan episode bermain masak-masakan bersama ayahnya sampai kantuk gelombang kedua hinggap di matanya.
Permintaan semacam ini sering direngekkan Hanifa kalau sudah mulai mengantuk. Variannya yang lain adalah "ingin belajar terbang" atau "ingin tidur di awan." Saya tidak pasti apakah dia tahu bahwa itu mustahil dipenuhi, dia memintanya dengan nada yang sama seperti saat dia meminta dibuatkan teh atau dibacakan buku. Tapi mungkin dia tahu itu karena dia memintanya diiringi wajah sedih. Biasanya begitu melihat saya terdiam sejenak setelah mendengar permintaan itu, dia akan menangis dan mengulangi rengekannya di tengah suara tangisnya.
Saya sudah belajar dari pengalaman terdahulu bahwa permintaan semacam itu tidak bisa ditolak tegas dengan mengedepankan realitas atau logika. Dia akan jadi makin sedih. Air mata yang perlu dibendung akan semakin banyak dan dadanya jadi sesak, sulit bernapas dan dia akan terus terisak-isak. Harus dicarikan jawaban yang tak kalah imajinatif atau pengalih perhatian yang tidak mengabaikan permintaan itu sebagai omong kosong anak-anak saja.
Lantas berkhayallah kami bersama terbang menuju bulan dan bintang, melintasi awan dengan kedua tangan mengacung ke depan seperti anpanman atau superman atau batman lagi terbang, atau kedua tangan berayun di kiri dan kanan seperti sayap burung. Kami bertemu dengan pesawat terbang yang sedang menembus hamparan awan putih. Sampai akhirnya kami tiba di bulan dan tidak menemukan apa-apa di sana kecuali kelinci-kelinci yang melompat ke sana ke mari. Tidak ada pohon, tidak ada air atau orang-orang lain sehingga kami harus cepat-cepat kembali ke bumi.
Lantas bernyanyilah saya lagu 'Ambilkan bulan, bu.' dan Hanifa berkhayal bulan itu sudah sampai di pelukannya, yang kini dia taruh di samping bantalnya, dan bulan itu sedang tersenyum. Tapi dia masih belum mau tidur juga dan adiknya mulai menangis karena juga belum bisa tidur. Akhirnya pukul sembilan, ayah mereka pulang, Hanifa melupakan bulannya, kantuknya buyar, dan dia bergegas mempersiapkan episode bermain masak-masakan bersama ayahnya sampai kantuk gelombang kedua hinggap di matanya.
Subscribe to:
Posts (Atom)