Belakangan ini terlalu sering saya mencatatkan keluhan tentang Hanifa di blog ini. Tidak adil kalau saya tidak mencatat pula momen ketika dia mencengangkan saya dengan sikap baik dan lemah lembutnya. Itu terjadi ketika saya sakit demam lagi karena mastitis hari ini.
Siang ini saya terpaksa hanya terbaring di tempat tidur karena panas badan saya mencapai 38,9 derajat. Penyebabnya adalah mastitis, persis seperti yang saya alami dua minggu setelah kelahiran Rasyad. Saya jadi tidak bisa menemani Hanifa bermain, atau membantu dia mengambilkan apa-apa yang dibutuhkannya.
Saya memperkirakan Hanifa akan jadi senewen dan marah-marah menghadapi keadaan itu, seperti hari-hari biasa. Tapi rupanya dugaan saya meleset. Dengan keajaiban yang entah datang dari mana, dia jadi anak yang sangat berbeda dari biasanya. Dia bilang pada saya, "Ibu istirahat di tempat tidur saja ya, Hanifa mau main sendiri."
Kemudian dia keluarkan balok-balok dari lemari. Dia main balok-balok itu sendiri, membuat kota-kotaan seperti yang kami bikin bersama kemarin sore. Salah satu rancangan baloknya dia bawa kepada saya. "Ini hadiah untuk ibu," katanya. Setelah bosan main balok, dia keluarkan beberapa puzzle dan dia main puzzle sendiri. Selama dia bermain beberapa kali say mencoba bangkit untuk memperhatikan, tapi dia menyahuti dengan perkataan seperti tadi, "Ibu istirahat aja ya."
Hati saya merasa hangat dengan ucapan-ucapannya itu. Justru dengan perkataannya itu saya jadi makin ingin menemani dia, ingin melakukan sesuatu untuk dia meskipun harus bersusah payah. Saya terharu, dia ternyata seorang anak yang lembut hati dan mampu berempati ketika berhadapan dengan penderitaan orang lain.
Kreativitas Hanifa lagi meningkat dalam pekan-pekan ini. Hampir tiap hari dia menempelkan karya baru di dinding, gambar atau mosaik potongan kertas origami. Kalau Hanifa menggambar, berarti dia juga mengarang cerita, karena sambil menggambar atau sesudahnya dia menceritakan apa yang digambarnya.
"Ini gambar hanifa sedang pergi ke sekolah, pakai sepatu merah dan kerudung warna-warni," katanya sambil mencoretkan krayon. "Harinya cerah, ini mataharinya, tapi ada awan dan berangin." "Rasyad sedang di rumah sama ibu," katanya sambil menggambar rumah dalam proporsi yang lebih kecil dibanding dia. Semua yang lain memang selalu digambarkan dengan proporsi yang lebih kecil daripada dia sebagai pusat cerita.
Gambar yang dibuat Hanifa biasanya terdiri atas orang, rumah, matahari, angin (ya, dia juga menggambar angin yang tidak kelihatan di mata dengan coretan krayon yang sama tajamnya dengan benda-benda yang terlihat), rumput, burung-burung dan air. Gambar orangnya masih berupa lingkaran kepala yang bertangan dan berkaki, tanpa badan. Tampaknya kemiripan dengan objek yang digambar sama sekali bukan sesuatu yang penting buat dia. Menggambar bagi dia saat ini sepertinya hanyalah untuk mengeksplorasi kemampuannya menarik garis. Dia juga menggambar dengan cat air, menggunakan jari atau cottonbuds untuk mengulaskan warna. Dia juga menggambar di komputer. Apa pun hasilnya, dia tak pernah kecewa dan malu. Tidak pernah menyebut gambarnya jelek. Semuanya layak dipamerkan dan dipajang di dinding. Dia pun menerima apresiasi kita dengan senang.
Mencipta tampaknya tidak pernah menjadi kesulitan besar buat anak-anak. Mereka murni kreatif. Tidak mengarahkan ciptaannya menurut konsep tertentu yang sudah ada dalam kepalanya. Membiarkan semua yang ada di dalam dirinya hadir saat ini, tanpa takut-takut. Ke mana perginya energi kreatif yang hebat itu ketika mereka beranjak dewasa?
Saya curiga ini ada kaitannya dengan harapan akan pujian dan hukuman, kebiasaan yang sudah ditanamkan semasa bersekolah. Pujian hanya diberikan kepada karya-karya yang bagus, sedangkan karya yang dinilai jelek akan mendapat tanggapan yang menciutkan hati dan mematahkan semangat untuk mencoba lagi.
Anak-anak yang masih belum mengalami masa "penciutan kreativitas" itu berani berkreasi dengan bebas, menunjukkan hasilnya tanpa ragu, dan menunggu tanggapan positif untuk setiap hasil karyanya. Pujian apa pun yang kita berikan akan membuat dia senang. Dia tidak akan menolaknya dengan mengatakan karyanya tidak sebagus bikinan si itu atau si ini. Dia tidak membandingkan. Cara dia menerima pujian pun tampak sangat percaya diri, tidak malu-malu dan tidak merasa tidak pantas untuk dipuji. Saya ingin menjaga kreativitas kanak-kanak Hanifa agar terus terbawa hingga dewasa.
"Ini gambar hanifa sedang pergi ke sekolah, pakai sepatu merah dan kerudung warna-warni," katanya sambil mencoretkan krayon. "Harinya cerah, ini mataharinya, tapi ada awan dan berangin." "Rasyad sedang di rumah sama ibu," katanya sambil menggambar rumah dalam proporsi yang lebih kecil dibanding dia. Semua yang lain memang selalu digambarkan dengan proporsi yang lebih kecil daripada dia sebagai pusat cerita.
Gambar yang dibuat Hanifa biasanya terdiri atas orang, rumah, matahari, angin (ya, dia juga menggambar angin yang tidak kelihatan di mata dengan coretan krayon yang sama tajamnya dengan benda-benda yang terlihat), rumput, burung-burung dan air. Gambar orangnya masih berupa lingkaran kepala yang bertangan dan berkaki, tanpa badan. Tampaknya kemiripan dengan objek yang digambar sama sekali bukan sesuatu yang penting buat dia. Menggambar bagi dia saat ini sepertinya hanyalah untuk mengeksplorasi kemampuannya menarik garis. Dia juga menggambar dengan cat air, menggunakan jari atau cottonbuds untuk mengulaskan warna. Dia juga menggambar di komputer. Apa pun hasilnya, dia tak pernah kecewa dan malu. Tidak pernah menyebut gambarnya jelek. Semuanya layak dipamerkan dan dipajang di dinding. Dia pun menerima apresiasi kita dengan senang.
Mencipta tampaknya tidak pernah menjadi kesulitan besar buat anak-anak. Mereka murni kreatif. Tidak mengarahkan ciptaannya menurut konsep tertentu yang sudah ada dalam kepalanya. Membiarkan semua yang ada di dalam dirinya hadir saat ini, tanpa takut-takut. Ke mana perginya energi kreatif yang hebat itu ketika mereka beranjak dewasa?
Saya curiga ini ada kaitannya dengan harapan akan pujian dan hukuman, kebiasaan yang sudah ditanamkan semasa bersekolah. Pujian hanya diberikan kepada karya-karya yang bagus, sedangkan karya yang dinilai jelek akan mendapat tanggapan yang menciutkan hati dan mematahkan semangat untuk mencoba lagi.
Anak-anak yang masih belum mengalami masa "penciutan kreativitas" itu berani berkreasi dengan bebas, menunjukkan hasilnya tanpa ragu, dan menunggu tanggapan positif untuk setiap hasil karyanya. Pujian apa pun yang kita berikan akan membuat dia senang. Dia tidak akan menolaknya dengan mengatakan karyanya tidak sebagus bikinan si itu atau si ini. Dia tidak membandingkan. Cara dia menerima pujian pun tampak sangat percaya diri, tidak malu-malu dan tidak merasa tidak pantas untuk dipuji. Saya ingin menjaga kreativitas kanak-kanak Hanifa agar terus terbawa hingga dewasa.
Tampaknya saya keliru mengatakan bahwa badai amuk Hanifa sudah reda. Mungkin itu hanya angan-angan saya saja, harapan yang terlalu besar untuk disampirkan pada Hanifa. Dia tetap ingin mendominasi seluruh perhatian hanya untuk dia, masih belum siap berbagi, dan barangkali takkan pernah siap untuk itu.
Tadi malam angin ribut itu bertiup lagi. Kecemburuan Hanifa menyala hebat, dia benar-benar bikin pusing. Dia minta gendong pada saat Rasyad perlu menyusu, dia tidak mau membiarkan saya menggendong adiknya yang sedang menangis. Dia meledakkan tangisan yang sulit dihentikan. Kita tidak bisa tahu apa yang dapat meredakan tangisannya pada saat itu, karena semua yang kita lakukan tampak salah di matanya. Barangkali yang diinginkannya adalah penelantaran adiknya secara terang-terangan.
Memang kadang-kadang dia bisa bersikap sangat baik pada adiknya. Dia sesekali menunjukkan sikap ingin melindungi dan sangat peduli. Kalau saya terpaksa shalat sambil menggendong Rasyad, dia berpesan, "Rasyadnya jangan sampai jatuh ya, ibu." Kalau salah satu kaos kaki atau sarung tangan Rasyad terlepas, dia akan buru-buru mencarikannya dan memasangkannya kembali. Setelah Rasyad selesai menyusu, dia sering bertanya untuk memastikan apakah sendawanya sudah keluar. Dia mau dimintai tolong mengambilkan pampers atau barang ini-itu untuk keperluan adiknya. Belakangan dia mendesak ikut membantu mengganti pampers Rasyad dan menggendongnya.
Tapi di lain waktu dia bisa berubah 180 derajat, tidak suka dengan kehadiran adiknya, tidak rela jika adiknya diberi sedikit perhatian. Dia menghentikan kegiatan yang sedang asyik dilakukannya kemudian menangis dan minta gendong persis pada saat adiknya mulai menangis dan perlu disusui. Dia memunculkan macam-macam permintaan yang sulit dipenuhi dalam keadaan terdesak, tapi keinginannya itu tidak bisa ditunda, perbuatannya tidak bisa dialihkan.
Ledakan tangisnya pada saat itu bukan bikin iba, tapi justru terasa repulsive. Semakin dia mendesak, semakin dia memancing rasa ingin menolak. Sungguh butuh kesabaran yang berlimpah ruah dalam menghadapinya. Saya harus berperang dengan ego sendiri untuk melayaninya, karena jika tidak cepat-cepat dilayani kemarahannya akan makin besar. Mas Budi bisa lebih sabar daripada saya dalam soal ini. Kesabarannya bikin saya ingin menangis. Mas Budi sepertinya selalu bisa menelan kemarahannya. Saya sekarang jadi bisa mengerti mengapa sampai terjadi banyak kasus child abuse. Kesabaran kita tidak selalu bisa tersedia dalam jumlah yang sepadan dengan yang dituntut oleh keadaan. Saya tidak ingin terpeleset ke sana, karena itu doa saya sekarang adalah agar Tuhan memberi saya limpahan energi baru dan kesabaran setiap hari.
Tadi malam angin ribut itu bertiup lagi. Kecemburuan Hanifa menyala hebat, dia benar-benar bikin pusing. Dia minta gendong pada saat Rasyad perlu menyusu, dia tidak mau membiarkan saya menggendong adiknya yang sedang menangis. Dia meledakkan tangisan yang sulit dihentikan. Kita tidak bisa tahu apa yang dapat meredakan tangisannya pada saat itu, karena semua yang kita lakukan tampak salah di matanya. Barangkali yang diinginkannya adalah penelantaran adiknya secara terang-terangan.
Memang kadang-kadang dia bisa bersikap sangat baik pada adiknya. Dia sesekali menunjukkan sikap ingin melindungi dan sangat peduli. Kalau saya terpaksa shalat sambil menggendong Rasyad, dia berpesan, "Rasyadnya jangan sampai jatuh ya, ibu." Kalau salah satu kaos kaki atau sarung tangan Rasyad terlepas, dia akan buru-buru mencarikannya dan memasangkannya kembali. Setelah Rasyad selesai menyusu, dia sering bertanya untuk memastikan apakah sendawanya sudah keluar. Dia mau dimintai tolong mengambilkan pampers atau barang ini-itu untuk keperluan adiknya. Belakangan dia mendesak ikut membantu mengganti pampers Rasyad dan menggendongnya.
Tapi di lain waktu dia bisa berubah 180 derajat, tidak suka dengan kehadiran adiknya, tidak rela jika adiknya diberi sedikit perhatian. Dia menghentikan kegiatan yang sedang asyik dilakukannya kemudian menangis dan minta gendong persis pada saat adiknya mulai menangis dan perlu disusui. Dia memunculkan macam-macam permintaan yang sulit dipenuhi dalam keadaan terdesak, tapi keinginannya itu tidak bisa ditunda, perbuatannya tidak bisa dialihkan.
Ledakan tangisnya pada saat itu bukan bikin iba, tapi justru terasa repulsive. Semakin dia mendesak, semakin dia memancing rasa ingin menolak. Sungguh butuh kesabaran yang berlimpah ruah dalam menghadapinya. Saya harus berperang dengan ego sendiri untuk melayaninya, karena jika tidak cepat-cepat dilayani kemarahannya akan makin besar. Mas Budi bisa lebih sabar daripada saya dalam soal ini. Kesabarannya bikin saya ingin menangis. Mas Budi sepertinya selalu bisa menelan kemarahannya. Saya sekarang jadi bisa mengerti mengapa sampai terjadi banyak kasus child abuse. Kesabaran kita tidak selalu bisa tersedia dalam jumlah yang sepadan dengan yang dituntut oleh keadaan. Saya tidak ingin terpeleset ke sana, karena itu doa saya sekarang adalah agar Tuhan memberi saya limpahan energi baru dan kesabaran setiap hari.
Hanifa mendapatkan buku hariannya yang pertama. Dua hari yang lalu saya membelikannya sebuah buku catatan kecil dengan sampul bergambar cake strawberry. Dia sendiri yang memilih buku itu di antara jejeran di rak toko itu. Saya mengatakan, di buku ini Hanifa mencatat apa saja yang Hanifa kerjakan hari ini, bagaimana rasanya dan apa yang paling Hanifa suka. Saya yang akan menuliskan apa yang ingin dia catat di buku itu.
Pada hari pertama, dia masih belum yakin dengan apa yang akan direkam dari pengalamannya di hari itu. Saya membantu dia mengingat apa yang sudah dia alami dan dia memilih satu yang paling berkesan. Dia menceritakan pengalaman itu, dan saya mencatatkannya. Catatan hari pertamanya berbunyi begini:
hari ini hanifa dibelikan kalung sama ibu di nagasakiya. ifa dan ibu pergi belanja, rasyad juga ikut. besok-besok kalau harinya panas, kita pergi lagi ya.
Hari ini dia sudah lebih yakin dengan apa yang perlu dicatatnya. Menjelang tidur tadi, dia minta saya untuk mencatatkan pengalamannya hari ini ke dokter karena sakit pilek. Dia kelihatan senang punya buku catatan harian sendiri. Buku itu dia simpan dekat kumpulan barang-barang berharganya, pensil, gunting, lem dan penghapus.
Ini buku tulis kedua yang pernah saya belikan buat dia. Buku tulis yang pertama--berwarna kuning dengan pinggiran spiral dan gambar sampul karakter anime--dia gunakan untuk menulis sendiri. Tentu saja bukan tulisan yang dapat dibaca, tapi coretan-coretan kecil mengikut garis buku yang dia buat dalam gaya seperti sedang menulis. Perkenalan lewat buku pertama itu membuat dia tidak asing lagi dengan ide tentang buku catatan harian.
Pada hari pertama, dia masih belum yakin dengan apa yang akan direkam dari pengalamannya di hari itu. Saya membantu dia mengingat apa yang sudah dia alami dan dia memilih satu yang paling berkesan. Dia menceritakan pengalaman itu, dan saya mencatatkannya. Catatan hari pertamanya berbunyi begini:
hari ini hanifa dibelikan kalung sama ibu di nagasakiya. ifa dan ibu pergi belanja, rasyad juga ikut. besok-besok kalau harinya panas, kita pergi lagi ya.
Hari ini dia sudah lebih yakin dengan apa yang perlu dicatatnya. Menjelang tidur tadi, dia minta saya untuk mencatatkan pengalamannya hari ini ke dokter karena sakit pilek. Dia kelihatan senang punya buku catatan harian sendiri. Buku itu dia simpan dekat kumpulan barang-barang berharganya, pensil, gunting, lem dan penghapus.
Ini buku tulis kedua yang pernah saya belikan buat dia. Buku tulis yang pertama--berwarna kuning dengan pinggiran spiral dan gambar sampul karakter anime--dia gunakan untuk menulis sendiri. Tentu saja bukan tulisan yang dapat dibaca, tapi coretan-coretan kecil mengikut garis buku yang dia buat dalam gaya seperti sedang menulis. Perkenalan lewat buku pertama itu membuat dia tidak asing lagi dengan ide tentang buku catatan harian.
Badai amuk Hanifa mulai mereda. jumat yang lalu hanya sepuluh menit, kemarin hanya beberapa menit menjelang tidurnya, ketika dia sudah capek dan ngantuk--saat-saat yang biasanya dia butuh perhatian lebih. Setelah dua minggu Rasyad di rumah, akhirnya dia mau mengerti perubahan yang dituntut oleh kehadiran adiknya.
butuh usaha lebih untuk membuatnya tetap merasa dipentingkan saat ini. tidak cukup lagi dengan mengatakan berulang-ulang bahwa kita menyayanginya. dia butuh aksi, kita perlu melakukan sesuatu. ayahnya mengambil langkah heroik dengan membawakan hadiah untuk dia setiap hari sepulang dari lab. kue kecil, permen, mainan, barang-barang kecil dan sederhana yang bernilai besar di matanya. dia menyambut kedatangan ayahnya dengan gembira sambil bertanya, ada hadiah apa untuk hanifa hari ini?
kenakalan apa pun yang dilakukannya saat cemburu meledak itu sesungguhnya adalah usahanya untuk menarik perhatian. dia bukannya berubah menjadi seorang anak nakal atau pemarah. dilihat dari sudut pandang dia, situasi sekarang ini tentulah agak menyakitkan. kehadiran seorang bayi kecil di tengah keluarga ini bukanlah kehendak dia. dia tidak bisa membayangkan kenyataannya kalaupun sudah diberi tahu sejk jauh hari dan kelihatan senang dengan prospek itu. ketika bayi itu telah benar-benar hadir dan dia melihat betapa saya lantas jadi banyak menghabiskan waktu bersama bayi kecil itu, tentu dia merasa seperti dirampas, dikesampingkan, ditinggalkan. dia merasa tersisih dan berusaha mendapatkan kembali apa yang pernah dipunyainya. membuat keributan, menuntut ini itu dan mengamuk ketika sudah capek tentu sebenarnya merupakan upaya dia untuk memenangkan kembali perhatian penuh orangtuanya.
sudah tiga minggu sejak hadiah pertama untuk hanifa. sekarang penekanannya sedikit digeser, hadiah diberikan setelah hanifa selesai membaca satu halaman iqra. dia tidur sambil memegang hadiah itu. sampai terbangun masih tergenggam erat di tangannya.
butuh usaha lebih untuk membuatnya tetap merasa dipentingkan saat ini. tidak cukup lagi dengan mengatakan berulang-ulang bahwa kita menyayanginya. dia butuh aksi, kita perlu melakukan sesuatu. ayahnya mengambil langkah heroik dengan membawakan hadiah untuk dia setiap hari sepulang dari lab. kue kecil, permen, mainan, barang-barang kecil dan sederhana yang bernilai besar di matanya. dia menyambut kedatangan ayahnya dengan gembira sambil bertanya, ada hadiah apa untuk hanifa hari ini?
kenakalan apa pun yang dilakukannya saat cemburu meledak itu sesungguhnya adalah usahanya untuk menarik perhatian. dia bukannya berubah menjadi seorang anak nakal atau pemarah. dilihat dari sudut pandang dia, situasi sekarang ini tentulah agak menyakitkan. kehadiran seorang bayi kecil di tengah keluarga ini bukanlah kehendak dia. dia tidak bisa membayangkan kenyataannya kalaupun sudah diberi tahu sejk jauh hari dan kelihatan senang dengan prospek itu. ketika bayi itu telah benar-benar hadir dan dia melihat betapa saya lantas jadi banyak menghabiskan waktu bersama bayi kecil itu, tentu dia merasa seperti dirampas, dikesampingkan, ditinggalkan. dia merasa tersisih dan berusaha mendapatkan kembali apa yang pernah dipunyainya. membuat keributan, menuntut ini itu dan mengamuk ketika sudah capek tentu sebenarnya merupakan upaya dia untuk memenangkan kembali perhatian penuh orangtuanya.
sudah tiga minggu sejak hadiah pertama untuk hanifa. sekarang penekanannya sedikit digeser, hadiah diberikan setelah hanifa selesai membaca satu halaman iqra. dia tidur sambil memegang hadiah itu. sampai terbangun masih tergenggam erat di tangannya.
Hanifa sudah semakin lancar membaca hiragana, dan mulai mengenal katakana. Dia sering kelihatan asyik membaca buku sendiri. Buku cerita bergambar anak-anak Jepang sudah bisa dia baca habis sendiri dari awal sampai akhir. Dia tampak menikmati kegiatan membaca itu. Sehabis sarapan pagi, dia mulai membongkar kotak bukunya, mencari buku-buku yang bisa dia baca sendiri: kesukaannya adalah serial Miffy, serial Pao-chan, serial Maisy. Anak-anak pembaca yang rakus dan tak kunjung bosan untuk mengulang-ulang satu buku yang sedang dia senangi. Ketika saya meminjamkan serial Pao-chan dan Maisy dari perpustakaan, dalam sehari dia bisa mengulang baca buku itu berkali-kali. Selain membacanya sendiri, dia juga minta dibacakan lagi buku yang sama setiap menjelang tidur.
Pagi ini saya terbebaskan beberapa jam untuk bekerja sendiri karena dia asyik membaca. Di samping kursinya sudah menumpuk buku-buku yang habis dia bacakan untuk adiknya yang sedang tidur. Untuk buku-buku berbahasa Inggris atau Indonesia, karena masih belum bisa membacanya, dia menceritakan isi buku itu menggunakan kata-katanya sendiri dengan melihat gambar.
Pagi ini saya terbebaskan beberapa jam untuk bekerja sendiri karena dia asyik membaca. Di samping kursinya sudah menumpuk buku-buku yang habis dia bacakan untuk adiknya yang sedang tidur. Untuk buku-buku berbahasa Inggris atau Indonesia, karena masih belum bisa membacanya, dia menceritakan isi buku itu menggunakan kata-katanya sendiri dengan melihat gambar.
Badai kemarahan Hanifa mulai menyurut. Dua hari yang lalu, episode ngamuk-ngamuknya hanya berlangsung sepuluh menit, ketika dia mulai mengantuk dan mendapatkan saya tidak bisa menggendong dia untuk mengantar tidurnya karena sedang menyusui Rasyad. Kemarin badai itu nyaris tidak terjadi sama sekali. Setelah dua minggu, akhirnya Hanifa mulai bisa menerima perbedaan suasana yang dituntut dengan kehadiran adiknya.
Ini masa-masa transisi yang sulit untuk Hanifa. Dia masih kaget mendapatkan bahwa saya kini tidak selalu tersedia untuk dia, bahwa saya menghabiskan begitu banyak waktu untuk mengurus si adik kecil itu. Dia marah ketika saya lagi-lagi didapatinya sedang menyusui atau mengganti popok atau menggendongnya. Ada saat-saat ketika dia harus menunggu atau mengalah karena saya sedang mengurusi keperluan mendesak adiknya. Dia masih menunggu dan mengalah dengan rasa terpaksa untuk saat ini. Ini membuat dia kesal.
Dia tampak agak labil mengatur emosinya menerima kehadiran Rasyad. Kadang seperti sangat senang, menciumi adiknya berkali-kali, mencoba mengendongnya, tidur sambil memeluknya, dan menjagainya seperti seorang kakak yang penuh pengertian. Tapi di lain waktu begitu marah dan cemburu, tak rela kalau adiknya diberi perhatian. Sering dia seperti menahan air matanya supaya tangis tidak meledak, suaranya serak dan terbatuk-batuk sambil menjelaskan apa yang membuat dia marah. Dia tidak bisa langsung menghubungkan kemarahannya dengan kehadiran adiknya, dia marah karena saya tidak bisa memenuhi permintaannya. Kadang dia mendesakkan sebuah permintaan yang terlalu sulit untuk dipenuhi. Minta digendong atau mengajak saya main bola pada saat saya sedang menyusui, atau marah karena sesuatu yang begitu remeh. Dia mengembangkan sebuah keterampilan baru: menemukan saat yang paling sulit untuk menuntut sesuatu yang mustahil.
Kesabaran seperti sedang dituntut untuk berada pada level tertingginya saat ini. Saya berusaha untuk tidak ikut terpancing marah ketika dia sedang banyak tuntutan. Saya terus mengingat-ingat kata Richard Eyre itu, "Catch her doing something good and praise her lavishly," untuk membuat dia merasa lebih diperhatikan secara positif. Saya coba mengabaikan perilaku negatifnya dengan bersikap tidak peduli pada saat dia melakukan sesuatu yang jelek, dan memuji habis-habisan pada saat dia melakukan kebaikan. Tapi, di atas semua itu sabar, sabar, sabar....
Dia tampak agak labil mengatur emosinya menerima kehadiran Rasyad. Kadang seperti sangat senang, menciumi adiknya berkali-kali, mencoba mengendongnya, tidur sambil memeluknya, dan menjagainya seperti seorang kakak yang penuh pengertian. Tapi di lain waktu begitu marah dan cemburu, tak rela kalau adiknya diberi perhatian. Sering dia seperti menahan air matanya supaya tangis tidak meledak, suaranya serak dan terbatuk-batuk sambil menjelaskan apa yang membuat dia marah. Dia tidak bisa langsung menghubungkan kemarahannya dengan kehadiran adiknya, dia marah karena saya tidak bisa memenuhi permintaannya. Kadang dia mendesakkan sebuah permintaan yang terlalu sulit untuk dipenuhi. Minta digendong atau mengajak saya main bola pada saat saya sedang menyusui, atau marah karena sesuatu yang begitu remeh. Dia mengembangkan sebuah keterampilan baru: menemukan saat yang paling sulit untuk menuntut sesuatu yang mustahil.
Kesabaran seperti sedang dituntut untuk berada pada level tertingginya saat ini. Saya berusaha untuk tidak ikut terpancing marah ketika dia sedang banyak tuntutan. Saya terus mengingat-ingat kata Richard Eyre itu, "Catch her doing something good and praise her lavishly," untuk membuat dia merasa lebih diperhatikan secara positif. Saya coba mengabaikan perilaku negatifnya dengan bersikap tidak peduli pada saat dia melakukan sesuatu yang jelek, dan memuji habis-habisan pada saat dia melakukan kebaikan. Tapi, di atas semua itu sabar, sabar, sabar....
Hanifa mendapat apa yang diinginkannya: adik laki-laki. Dia menyambut kehadirannya seperti sebuah hadiah yang ditujukan khusus untuk dirinya saja. Pada hari pertama adiknya berada di rumah, dia seperti ingin menghidupkan semua apa yang pernah dia khayalkan akan dilakukan untuk adiknya. Dia bacakan buku, dia beri mainan, dia letakkan boneka di sampingnya untuk menemani tidur adik bayi berumur seminggu yang masih malas membuka matanya itu. Dia ingin menggendongnya, tentu saja. Sudah sejak lama dia membayangkan akan menggendong adik bayi seperti layaknya menggendong boneka kewpie yang dia bawa ke mana-mana selama saya di rumah sakit. Dia tampak sangat senang mendapatkan adik.
Tapi beberapa jam kemudian, realitas mulai menampar. Tengah malam ketika dia sedang nyenyak, tidurnya terganggu oleh tangisan bayi. Pertama-tama dia hanya membuka sedikit matanya, mencoba kembali tidur. Tapi tangisan bayi yang sedang sakit perut di tengah malam itu tidak segera berhenti. Hanifa tiba-tiba berteriak keras, menampakkan kekesalannya, "Huuuh! Gendong!!" Reaksi yang mengejutkan. Terbangun dengan suara keras yang tidak kunjung berhenti barangkali tidak akan membuat kesal sedemikian, tapi setiap kali dia membuka sedikit matanya, pemandangan yang terlihat adalah saya sedang menggendong adiknya lagi.
Dia masih ingin perhatian yang tak terbagi. Bagaimana pun dia terlihat siap dan senang membayangkan adanya seorang adik, dia tetap perlu masa penyesuaian ketika berhadapan dengan kenyataan baru ini.
Tapi beberapa jam kemudian, realitas mulai menampar. Tengah malam ketika dia sedang nyenyak, tidurnya terganggu oleh tangisan bayi. Pertama-tama dia hanya membuka sedikit matanya, mencoba kembali tidur. Tapi tangisan bayi yang sedang sakit perut di tengah malam itu tidak segera berhenti. Hanifa tiba-tiba berteriak keras, menampakkan kekesalannya, "Huuuh! Gendong!!" Reaksi yang mengejutkan. Terbangun dengan suara keras yang tidak kunjung berhenti barangkali tidak akan membuat kesal sedemikian, tapi setiap kali dia membuka sedikit matanya, pemandangan yang terlihat adalah saya sedang menggendong adiknya lagi.
Dia masih ingin perhatian yang tak terbagi. Bagaimana pun dia terlihat siap dan senang membayangkan adanya seorang adik, dia tetap perlu masa penyesuaian ketika berhadapan dengan kenyataan baru ini.
Subscribe to:
Posts (Atom)